Oleh Najla Anissa Fatin (mahasiswi Pendidikan Sejarah BP 10)
Bu, aku ingin berlari menjemput waktu..
Agar mampu kurangakai
sajak indah terbungkus kertas kado bergambar mentari untuk kutitipkan pada
Tuhan, bu.
Akupun berharap mampu
naiki elang, bu.
Agar airmataku bisa
bercerita tentangmu diatas langit biru.
Karna aku rindu bu,
kala kau dendangkan lagu hujan,
ketika awan hitam
bergaya nenek sihir bersama sapu lidinya yang bersemayam kilat tak
dinganya.
Karena aku rindu,
kala malam begitu indah untuk kita lewati,
hingga aku terlelap
disamping bulan bintang dalam buku ceritamu
Kau tau, begitu ingin
kutangkap masa lalu, bu.
dan kubawa pulang
untukku perlihatkan pada semua orang yang lewat.
Dan hari ini, bu.
Ketika kebaya darimu
lusuh kupakai,
Ketika album usang
kubuka lagi disamping pusaramu,
Ketika cucu-ccumu
bertanya, “nenek dulu seperti apa bu??”
Kukirimkan sajak
paling indah untukmu
Padang, Desember 2011
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dimalam Tahun Baru
Oleh Najla Anissa Fatin (mahasiswi Pendidikan Sejarah BP 10)
Malam yang indah kawan
Kulihat hiasan langit berwarna-warni di atas atap numahku.
Jika kau bertanya mengapa aku disini, dan bukan ditaman atau
pasar malam?
Akan kujawab kala teriakan penghujung tahun itu berakhir.
Ditemani coklat panas dari 3 jam yang lalu dan aliran
angin yang menembus tulang
Aku rakit kalender yang entah satu atau dua detik itu berlalu,
yang ditaruh ibu di pojokan dapur besama bungkusan pizza kosong
Menjadi sebentuk perahu mungil aneka corak, aneka
warna, aneka gambar
Untuk esok kulayarkan ia di kali samping rumahku
Berharap sampai diujung Antartika...... tahun berikutnya.
Lalu biarkan burung camar tumpangi perahunya
Jangan kau halau ketika bertemu
Karna ia akan tenggelam seketika.
Padang, Januari 2012
DAN KINI AKU MULAI SUKA
oleh Najla Anissa Fatin ( Mahasiswi Sejarah BP 10)
kini akupun mulai suka
akan segera terbiasa
seperti mentari yang
terbiasa terbit dan tenggelam
layaknya bulan yang terbiasa ditemani bintang
sungguh.. aku kini mulai suka
menyukai jeritan dari kolong jembatan megahmu
menyukai tangisan bayi kelaparan dari perutmu
menyukai sumpah dari mahasiswa yang demo didepan kantormu
menyukai asap mengepul dari hutan negaraku
tentu, agar kelak aku yang tertawa untukmu.
Padang, 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar